Labels

Test Footer

7 Mitos Unik Seputar Kepala Botak

Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, hampir dua dari setiap tiga orang mengalami kebotakan ketika memasuki usia 60. Mereka yang mengalami rambut rontok di area tertentu itu mayoritas laki-laki. 

http://www.unikgaul.com


Di sana, para penderita kebotakan bisa menghabiskan jutaan rupiah per tahun demi mengembalikan kepercayaan diri. Mereka menempuh berbagai perawatan mulai tradisional hingga pada teknologi modern. 

Kondisi itu menunjukkan bahwa masalah kebotakan menciptakan krisis percaya diri, terutama bagi mereka yang peduli penampilan. Kondisi semakin buruk saat dihadapkan pada sejumlah mitos, seperti dikutip dari Health US News:




1. Rambut rontok warisan genetis dari ibu

Mitos itu tidak sepenuhnya benar. Gen kebotakan yang utama adalah pada kromosom X yang didapatkan pria dari ibu mereka. Namun, faktor lain juga ikut berperan. Penelitian menunjukkan bahwa pria yang memiliki ayak botak lebih mungkin berisiko mengalami kebotakan.




2. Botak pertanda tua

Meski umumnya menyerang di usia tua, namun masalah rambut rontok ini bisa menyerang siapa saja. Bahkan, mereka yang masih berada di rentang usia 20-30 tahun. Bagi anak muda, ini menjadi masalah yang benar-benar memperburuk kepercayaan diri. Kebotakan di usia muda menjadi masalah psikologis, bukan penanda fisik yang menua. 




3. Penutup kepala mempercepat kebotakan

Tutup kepala tidak membuat rambut rontok. Namun, jaga kebersihan topi Anda dan pastikan ruang udara agar rambut masih bisa bernapas. Topi yang kotor dan jenis penutup kepala yang pengap dapat menyebabkan infeksi kulit kepala yang pada gilirannya dapat mempercepat rambut rontok.




4. Depresi dan stres picu kerontokan

Pernyataan tersebut belum sepenuhnya benar. Menurut Dermatologis, Gary Hitzig, stres fisik dan emosional tidak pernah meyebabkan kehilangan rambut. Jika rambut memang rontok, ia akan tumbuh kembali.




5. Cegah kerontokan berhenti memakai gel 

Tidak perlu panik, jika Anda sering menggunakan gel rambut atau hairspray. Produk tersebut tidak dapat membuat kepala Anda botak. Begitu pula dengan penggunaan sampo, keramas terlalu sering, dan ketombe. Itu semua tidak berpengaruh terhadap kerontokan rambut.  




6. Paparan matahari mempercepat kepala botak 

Mitos itu tidak benar. Berjemur matahari juga tidak perpengaruh terhadap kerontokan rambut.




7. Suplai karbohidrat membuat rambut rontok

Seorang dematolog asal Klinik Cleveland, Wilwa Bergfeld, mengatakan karbohidrat dan daging merah memberikan nutrisi yang bermanfaat untuk kulit kepala. Penelitian Bergfeld yang terakhir menunjukkan bahwa kekurangan zat besi terkait erat dengan rambut rontok. Pengobatan dengan mengkonsumsi suplemen zat besi dapat mengembalikan pertumbuhan.

5 Mitos Sejarah Makhluk Manusia Serigala

Sobat Unik, mitos seputa manusia serigala memang menjadi penasaran untuk diteliti, bahkan kisah ini sangat dikenal di seluruh wilayah di dunia dan kisah ini sering dijadikan tema utama dalam sebuah perfilman. Berikut kami rangkum 5 mitos sejarah tentang makhluk yang berjuluk manusia serigala ini, sebagai berikut :

1. Polandia
 Menurut sejarawan, sekitar abad 2.4oo tahun yang lalu diceritakan bahwa sejumlah penduduk di daerah Lituania dan Polandia bisa berubah wujud menjadi manusia serigala. Namun diceritakan, penduduk tersebut hanya bisa mengubah diri menjadi serigala untuk beberapa hari saja dalam setahun. Mereka akan berubah wujud menjadi serigala hitam dan akan mencari mangsa seorang manusia.
2. Kaisar Nero
 
Kisah tentang manusia serigala ini kemudian dituliskan menjadi sebuah bacaan hiburan. Sekitar abad ke-1, penulis yang bernama Virgil menulis pertama kali tentang makhluk manusia serigala. Kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Nero, banyak penulis yang menggunakan kata manusia serigala dalam sastra mereka. Mulailah bermunculan kisah manusia serigala yang ditambah-tambahkan dengan sinar bulan purnama, tempat pemakaman, dan luka yang abadi
3. Tradisi Yunani
 
Menurut sejarah dari Roma dan Yunani, manusia serigala berawal dari kutukan oleh dewa kepada manusia yang pernah mempersembahkan korban manusia pada ritual kepercayaannya. Namun ketika sekitar abad ke-18, kisah tentang manusia serigala ini menjadi trend di kalangan masyarakat. Cerita tentang manusia serigala tersebut lebih banyak dianggap sebagai sebuah kisah nyata dibandingkan fiksinya.
4. Jenis Manusia Serigala
 http://ww.indojamtangan.com
Menurut cerita sejarah dan kepercayaan masyarakat, manusia serigala terdiri dari 3 tipe, yang pertama yaitu berdasarkan keturunan. Seseorang dapat mengubah diri menjadi serigala dikarenakan kutukan terhadap nenek moyangnya terdahulu, sehingga dia tidak bisa menghindari kutukan tersebut. Yang kedua yaitu orang yang sengaja ingin menjadi serigala untuk tujuan jahat atau ilmu hitam. Dan yang ketiga yaitu orang yang terkena kutukan namun dia berhati baik dan tidak menyakiti orang lain dan dia lebih memisahkan diri dari wilayah penduduk.
5. Dukun
 http://ww.unikgaul.com
Menurut sejarah, para dukun jaman dahulu menggunakan ilmu hitam ini untuk mencari makanan, sehingga dia mengubah diri menjadi serigala agar dapat mencium jejak makanan yang akan diburunya. Namun sebagian dukun menggunakan ilmu ini untuk berbuat jahat seperti memasuki raga hewan untuk melakukan santet atau menakuti musuhnya.

Banyak mitos mengenai tabir surya. Adakalanya, faktanya malah berbanding terbalik dari mitos





Pajanan radiasi ultraviolet sinar matahari yang berlebihan dapat merugikan kesehatan. Misalnya kulit terbakar, penuaan dini, bahkan memicu penyakit kulit ganas, termasuk kanker. Sebab itu, sejumlah produsen menawarkan produk tabir surya alias sunscreen untuk menangkal efek jahat radiasi tersebut (fotoproteksi).


Menurut Hari Sukanto, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr Soetomo Surabaya, fotoproteksi tidak hanya terbatas pada pemakaian tabir surya. Upaya menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan juga tak bisa diabaikan. “Gunakan pelindung terhadap paparan sinar matahari dengan baju, topi, kaca mata, dan tabir surya,” katanya dalam Simposium Pearls of Cosmetic Dermatology di hotel Borobudur, Jakarta, akhir Februari lalu.


Dalam forum yang sama, Erdina H.D. Pusponegoro, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM Jakarta, mengungkap adanya sejumlah mitos tentang fotoproteksi itu. Agar mitos itu tak terus hidup dan berkembang, ia pun membuka faktanya.




Mitos 1:
Tabir surya dengan SPF (sun protecting factor) tinggi merupakan satu-satunya yang dibutuhkan untuk perlindungan terhadap pajanan matahari.
Fakta 1:
- Tabir surya sendiri tidak dapat memberikan perlindungan sepenuhnya.
- Kebanyakan tabir surya mengalami fotodegradasi ketika terpajan sinar matahari. Tabir surya tidak dibuat untuk bertahan lebih dari dua jam di luar ruangan.
- Tabir surya tidak seefektif menghindari pajanan matahari pada pukul 11.00-16:00 dengan cara mencari tempat teduh dan mengenakan pakaian yang melindungi.


Mitos 2:
Penggunaan tabir surya dengan SPF 15 dan SPF 30 secara bersamaan dapat memberikan proteksi SPF 45.
Fakta2:
- SPF tertinggi yang digunakan, SPF tertinggi yang didapatkan. Pada kasus ini, SPF yang diperoleh 30.
- Penggunaan tabir surya dengan jumlah yang tepat lebih baik daripada penggunaan tabir surya SPF tinggi dengan jumlah yang tidak tepat.


Mitos 3:
Orang dengan kulit gelap sudah terlindungi dari matahari.
Fakta3:
- Kulit normal yang berwarna gelap hanya menawarkan SPF 4, oleh sebab itu tetap dianjurkan untuk memakai fotoprotektor.
- Semua orang, apa pun tipe kulitnya, harus melakukan tindakan perlindungan terhadap pajanan matahari. Orang dengan warna kulit yang gelap memiliki proteksi natural lebih banyak dibandingkan orang dengan warna kulit yang lebih terang.


Mitos 4:
Tanned skin (menggelapkan kulit) membuat Anda terlihat lebih sehat, menarik, dan terlindung dari kerusakan akibat sinar matahari.
Fakta4:
- Sebagian besar orang menganggap bahwa tanned skin terlihat lebih cantik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri. Ini hanya efek psikologis.
- Tan merupakan reaksi perlindungan kulit terhadap radiasi; merefleksikan kerusakan kulit dan kulit berusaha memberikan perlindungan dengan melanin yang terbatas pada warna kulit, rambut, dan mata untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
- Seiring dengan berjalannya waktu, tanned skin akan menjadi keriput, kendur, kasar, kusam, dan bernada.
- Self-tanning cream tidak memiliki efek perlindungan terhadap matahari.


Mitos 5: Mendapatkan base tan dapat mencegah seseorang mendapat sunburn.
Fakta 5:
- Base tan adalah SPF 2 untuk kulit tipe 2.
- Kebanyakan ras Kaukasia memiliki kulit tipe 2.
- Kulit yang lebih gelap (tipe 4-6) akan memiliki proteksi yang lebih tinggi dengan base tan.


Mitos 6:
Indoor tanning lebih aman karena waktu pajanan lebih pendek.
Fakta6:
- Tidak lebih aman.
- Bohlam tanning bed mengeluarkan radiasi UVA yang berpenetrasi lebih dalam ke kulit dan tidak memberikan tanda-tanda peringatan pajanan UV yang berlebihan seperti sunburn.
- Tanning bed dapat memberikan radiasi 15X lebih banyak dari cahaya matahari di siang hari.
- 20 menit di tanning bed setara dengan 3-4 jam di matahari.


Mitos 7:
Tidak perlu menggunakan tabir surya karena telah menggunakan make-up yang mengandung tabir surya.
Fakta 7:
- Banyak foundation dan make-up yang mencantumkan SPF pada kemasannya tetapi tidak menyebutkan tabir surya yang dikandung, tidak photostable, tidak mengandung UVA blocker, dan diaplikasikan dalam jumlah yang tidak mencukupi untuk mencapai SPF yang diharapkan.


Mitos 8:
Penggunaan tabir surya menyebabkan kekurangan vitamin D.
Fakta 8:
- Dalam jumlah kecil (beberapa menit setiap harinya) sinar matahari memang dibutuhkan (UVB membantu produksi vitamin D pada kulit). Sebagian besar orang mendapatkan kebutuhan vitamin D harian dari makanan.
- Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan jangka panjang tabir surya sedikit atau tidak berpengaruh pada level vitamin D, tidak menginduksi hiperparatiroid sekunder atau osteoporosis.
- Pada pasien risiko tinggi, dianjurkan pemberian suplemen vitamin D 1.000 IU/hari.


Mitos 9:
- Tabir surya dapat menyebabkan kebutaan bila mengenai mata.
Fakta 9:
- Tabir surya tidak dapat menyebabkan kebutaan. Apabila mengenai mata, bilas dengan air selama 10-15 menit. Apabila mata kemerahan, nyeri menusuk, bengkak menetap, segera hubungi dokter.


Mitos 10:
Matahari tidak berbahaya bila cuaca mendung/berkabut.
Fakta 10:
- Awan dan kabut tidak memberikan perlindungan penuh dari pajanan matahari. Sampai 80 persen cahaya matahari dapat menembus awan kecil dan kabut. Hal ini menjadi alasan untuk tetap menggunakan photoprotective cosmetic tan dalam lingkungan artifisial, seperti indoor tanning.
- Faktor seperti waktu, musim, awan, polutan, posisi dari garis bumi, pantulan permukaan seperti pasir, salju, dan air mempengaruhi intensitas cahaya matahari.




SUMBER

Pengikut

Flag Counter

Twitter